Kekerasan Murid SD, Sosiolog: Guru Sibuk Kejar Sertifikasi

Pengamat Sosial Kampus Andalas Padang, Dwiyanti Hanandini menilainya, ramainya kekerasan pada siswa karena guru kurang pengawasan karena repot menguber sertifikasi.

“Kesibukan itu membuat guru kecapekan, hingga memberi pengajaran pada siswa asal saja, membuat guru kurang perhatian pada muridnya, guru juga repot kesana ke mari untuk menguber sertifikasi itu,” tuturnya, Senin (13/10/2014).

Baca juga: Biaya Kuliah UNHASPendaftaran UNHAS

Pengakuan ini dikatakan menanggapi tindakan kekerasan pada murid SD Trisula Perwatri, Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumber) yang diupload di situs Youtube dengan judul “Kekerasan Anak SD” pada Sabtu (11/10/2014).

Jaman dulu, katanya, guru SD cuma mengajar satu kelas sekaligus juga berperan menjadi alternatif orangtua siswa waktu di sekolah.

”Tetapi, saat ini tidak sama lagi. Aktivitas sertifikasi ini membuat perhatian pada muridnya menyusut. Semestinya, guru itu menegur siswa sekaligus juga mengamati mereka dalam sekolah,” tuturnya.

Celakanya lagi, beberapa orangtua siswa juga memberi perlengkapan mutakhir, dan membiarkan melihat yang tidak sama dengan usianya.

“Karena orangtua repot bekerja akan berefek sama anak-anak, mereka kurang memperoleh perhatian. Pada akhirnya mereka membuat suatu yang tidak mereka kenali efeknya,” tuturnya.

Baca juga: Biaya Kuliah UNIMAPendaftaran UNIMA

Karenanya, guru serta orangtua mesti lebih tambahan ketat dalam pengawasan. Waktu didalam rumah, dipantau oleh orang tuanya serta saat di sekolah dipantau oleh guru. “Saat ini kan di sekolah seringkali guru lupa memberi perhatian pada siswanya, ya karena aktivitas itu, kecapekan untuk sertikasi,” ujarnya

0 kommentarer

Lämna ett svar

E-postadressen publiceras inte. Obligatoriska fält är märkta *