Sang Alang Tegas Meminta RUU Permusikan Dibatalkan

Nada penolakan atau keberatan akan lahirnya Perancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan makin keras dilemparkan oleh banyak musisi nasional. Diantaranya musisi sekaligus juga vokalis Sang Alang, yang mengharap RUU Permusikan diurungkan.

Menurut dia, isi RUU itu benar-benar tidak memihak pada musisi. ”Malah hadirnya RUU permusikan ini akan membelenggu kebebasan berekspresi musisi dalam berkarya tentu saja kita tidak ingin hal tersebut berlangsung di Indonesia, karena itu saya menampik tegas lahirnya RUU Permusikan ini,” kata Sang Alang.

Baca juga : Jurusan di UNSIL

Sang Alang memandang banyak masalah dari RUU Permusikan yang bertentangan dengan jiwa serta karakter kesenian yang bebas berekspresi selama tidak melanggar norma-norma yang laku di penduduk.

”Menjadi musisi saya begitu prihatin serta bertanya-tanya sebetulnya apakah sich arah dibuatnya RUU Permusikan ini? Ingin membuat perlindungan kok justru batasi. Ditambah lagi ada ketetapan masalah sertifikasi semua,” sambung Sang Alang.

Ia juga memberikan contoh konkret dianya bila ikuti RUU Permusikan, jadi mesti mempunyai empat sertifikat. ”Satu sertifikat menjadi pencipta, lantas menjadi vokalis. Lalu menjadi penata musik, dan menjadi distributor. Ini jelas memusingkan,” geramnya.

Pertanyaan selanjutnya, lanjut Sang Alang, yang telah bermusik semenjak 1990-an, siapa yang mesti menguji serta memberi sertifikat. ”Berarti mesti ada instansi yang mengurusnya. Nah pengujinya siapa. Siapa yang memastikan atau menguji sang penguji,” imbuhnya.

Selain itu, penasihat hukum Sang Alang, Pitra Nasution menjelaskan jika RUU Permusikan malah banyak bertentangan dengan UUD 45 yang jadi basic dari semua basic sumber hukum atau UU di Indonesia.

”Saya baca serta pelajari nyatanya RUU Permusikan kok bertentangan dengan UUD 45 terpenting masalah 28C,” tegasnya. Walau sebenarnya semestinya tiap-tiap UU yang dibikin tidak bisa bertentangan dengan semangat UUD 45.

Baca juga : Jurusan di TEL-U BANDUNG

Ia juga lalu memberikan masalah dari RUU permusikan yang bertentangan, contohnya masalah 32 yang berbunyi: ”Untuk disadari menjadi profesi, aktor musik yang datang dari jalan pendidikan atau autodidak mesti menguji kompetensi”. Ini bertentangan dengan UUD masalah 28C yang berbunyi: ”Tiap-tiap orang memiliki hak meningkatkan diri lewat pemenuhan keperluan dasarnya memiliki hak mendapatkan pendidikan serta mendapatkan faedah dari ilmu dan pengetahuan serta tehnologi, seni serta budaya untuk tingkatkan kualitas hidupnya serta untuk kesejehateraan ummat manusia”.

Sang Alang memberikan jika masalah beberapa seniman itu cukup sudah ditata oleh beberapa undang-undang yang telah ada. Jadi, RUU Permusikan tidak butuh kembali. ”Beberapa hal yang sebenarnya telah ditata dengan UU, ada UU HAKI/UU Hak Cipta, ada pula UU Kebudayaan. Itu telah bicara banyak mengenai seni musik. Jadi, apakah urgensinya membuat RUU Permusikan,” tanyanya.

0 kommentarer

Lämna ett svar

E-postadressen publiceras inte. Obligatoriska fält är märkta *